Tembus Pasar Malaysia dan Singapura, Kemitraan Petani Ubi Jalar di Lubuk Pakam Rutin Ekspor 50 Ton/Bulan

18 Agustus 2026, LUBUK PAKAM – Komoditas agribisnis Sumatera Utara terus memperkuat posisinya di pasar regional
Asia Tenggara. Pengelolaan budidaya ubi jalar yang dipusatkan di daerah Lubuk Pakam, Sumatera Utara,
mencatatkan keberlanjutan ekspor secara rutin ke Malaysia dan Singapura dengan kapasitas siap kirim
mencapai 50 ton setiap bulannya.
Keberhasilan pasokan ekspor ini didukung oleh pola pengelolaan terintegrasi melalui kombinasi hasil
kebun sendiri serta kolaborasi berbasis kemitraan bersama para petani lokal di sekitar Lubuk Pakam.
Model kemitraan ini tidak hanya menjamin kepastian volume pasokan, tetapi juga mendorong
peningkatan kesejahteraan dan standar budidaya petani di daerah tersebut.
Komoditas ubi jalar asal Lubuk Pakam diminati oleh pasar Malaysia dan Singapura karena kualitas
fisiknya yang prima, cita rasa manis yang khas, serta pemenuhan standar keamanan pangan yang ketat.
Selama beberapa tahun terakhir, pengiriman yang konsisten menunjukkan tingginya kepercayaan buyer
luar negeri terhadap rantai pasok agribisnis dari Sumatera Utara.
Melalui standar pemilahan (sorting) dan penanganan pascapanen yang presisi, produk ubi jalar ini siap
memenuhi kebutuhan konsumsi harian masyarakat maupun industri pengolahan makanan di negara
tujuan.
Nilai Strategis Komoditas Ubi Jalar Sumatera Utara
Pengembangan budidaya dan ekspor ubi jalar di Lubuk Pakam memberikan dampak positif bagi
ekosistem pertanian daerah:

  • Pemberdayaan Petani Lokal: Pola kemitraan memberikan kepastian pasar (offtaker) dan harga
    yang stabil bagi para petani umbi-umbian di sekitar Lubuk Pakam.
  • Pasar Regional yang Stabil: Jarak geografis Sumatera Utara yang dekat dengan Malaysia dan
    Singapura menjadi keunggulan logistik dalam menjaga kesegaran produk (freshness) saat tiba di
    negara tujuan.
  • Diversifikasi Komoditas Ekspor Agribisnis: Menunjukkan bahwa sektor holtikultura dan umbi
    umbian memiliki daya saing tinggi di luar komoditas perkebunan utama seperti sawit dan karet.