20 Agustus 2026, Sumatera Utara – Pemanfaatan serabut kelapa menjadi komoditas bernilai tinggi terus dipacu melalui
fasilitas pengolahan (workshop) terintegrasi. Memproduksi cocopeat dan cocofiber, fasilitas ini
mencatatkan kapasitas produksi siap kirim hingga 50 ton per bulan guna menopang tingginya
pemenuhan kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Untuk menghasilkan produk bermutu tinggi, workshop menerapkan alur pemrosesan yang sistematis:
- Pemisahan Bahan (Sorting & Separation): Memisahkan gabus sabut kelapa (cocopeat) dari
seratnya (cocofiber) untuk mendapatkan bahan baku murni sesuai karakteristik masing-masing. - Pengeringan (Drying): Menurunkan tingkat kelembapan (moisture content) secara optimal agar
produk tahan terhadap jamur dan aman selama pengiriman jarak jauh. - Penyaringan (Sieving): Menyaring partikel untuk memastikan keseragaman ukuran serta
membuang sisa kotoran atau serpihan yang tidak diinginkan. - Pengendalian Kualitas (Quality Control): Menguji tingkat keasaman (pH), kadar garam (EC),
hingga ketahanan serat sebelum produk masuk tahap pengemasan (packaging).
Kedua komoditas turunan sabut kelapa ini memiliki segmen pasar yang luas. Cocopeat dimanfaatkan
secara masif sebagai media tanam organik ramah lingkungan, sementara cocofiber menjadi bahan baku
utama industri manufaktur kasur, jok kendaraan, hingga matras dan Geotextile.
Aplikasi & Kegunaan Utama Produk - Cocopeat : Memiliki daya serap dan penyimpanan air yang tinggi, menjadikannya pilihan ideal
untuk media tanam hidroponik, rumah kaca (greenhouse), serta campuran pupuk organik. - Cocofiber : Serat alam yang kuat, lentur, dan tahan lama, banyak digemari oleh industri
perabotan (furniture), otomotif, serta peredam kebisingan dan erosi tanah.