15 Agustus 2026, KISARAN – Pemanfaatan turunan buah kelapa terus memperkuat portofolio komoditas ekspor asal Sumatera Utara. Workshop yang berbasis di Kisaran mencatatkan kapasitas produksi arang batok kelapa
(coconut shell charcoal) hingga 224 ton per bulan untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar domestik
maupun internasional.
Produk arang batok kelapa ini dihasilkan melalui proses karbonisasi bernilai tambah dari tempurung
kelapa pilihan. Hasil olahan tersebut kini rutin didistribusikan untuk kebutuhan pasar dalam negeri serta
diimpor oleh sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Di kawasan Timur Tengah, arang batok kelapa asal Indonesia menjadi komoditas primadona karena
memiliki karakteristik panas yang stabil, kadar abu rendah, dan ketahanan bakar yang lama. Produk ini
umumnya diolah lebih lanjut atau digunakan langsung sebagai bahan baku briket shisha/hookah, bahan
bakar pemanggang (barbecue), hingga konsumsi industri pengolahan karbon aktif.
Dengan kapasitas produksi yang stabil dan rantai pasok yang terintegrasi di Kisaran, workshop ini terus
berkomitmen menjaga kontinuitas suplai serta mutu produk demi memenuhi standar spesifikasi pasar
global.
Potensi & Aplikasi Arang Batok Kelapa di Pasar Global
Komoditas turunan kelapa ini memiliki peran strategis dalam rantai pasok industri modern:
- Bahan Baku Briket Premium: Digunakan luas di kawasan Timur Tengah sebagai bahan utama
briket shisha dan barbecue karena sifatnya yang ramah lingkungan, minim asap, dan tidak
berbau. - Prekursor Karbon Aktif (Activated Carbon): Memiliki struktur pori yang optimal untuk diolah
menjadi karbon aktif, yang dimanfaatkan pada industri penyaringan air, pemurnian udara, hingga
pemrosesan emas. - Sirkular Ekonomi Perkebunan: Mengubah limbah batok kelapa menjadi komoditas bernilai tinggi
yang menyerap tenaga kerja lokal dan menggerakkan ekonomi daerah di Sumatera Utara.